Pertanian yang Berkah dan Ramah Lingkungan

Pertanian yang Berkah dan Ramah Lingkungan
Pengarang
Subdit Kepustakaan Islam 
Instansi
Kementerian Agama RI 
Kategori
Ekoteologi 
Statistik Data
 
Tgl. Publish
Selasa, 20 Oktober 2026 

Pertanian yang Berkah dan Ramah Lingkungan

إِنَّ الْحَمْدَ لِلّٰهِ, نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَسْتَهْدِيْهِ وَنَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ, أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنِ اهْتَدَى بِهُدَاهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ أَمَّا بَعْدُ. فَيَا عِبَادَ اللّٰهِ, أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللّٰهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. وَقَالَ تَعَالَى﴿ يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوْا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ, صَدَقَ اللّٰهُ الْعَظِيْمُ﴾

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah

Marilah kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah Swt. atas segala limpahan nikmat-Nya kepada kita semua. Nikmat iman, Islam, kesehatan, serta nikmat rezeki yang Allah karuniakan melalui bumi yang kita pijak. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad saw., keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman.

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah

Pada kesempatan khotbah kali ini, khatib mengajak diri pribadi dan jamaah sekalian untuk meresapi tema: “Pertanian yang Berkah dan Ramah Lingkungan”.

Tema ini sangat relevan dengan kehidupan kita di Bumi Nusantara ini, khususnya sebagai bangsa yang sebagian besar menggantungkan hidupnya dari sektor pertanian dan hasil bumi. Allah Swt. berfirman dalam Surah Al-Waqi’ah ayat 63–64:

اَفَرَءَيْتُمْ مَّا تَحْرُثُوْنَۗ - ءَاَنْتُمْ تَزْرَعُوْنَه اَمْ نَحْنُ الزّٰرِعُوْنَ

Apakah kamu memperhatikan benih yang kamu tanam? Apa-kah kamu yang menumbuhkannya atau Kami yang menum-buhkan?

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah

Ayat ini menegaskan kepada kita bahwa manusia hanyalah pengelola, bukan pemilik mutlak bumi. Petani menanam, merawat, dan mengolah tanah, namun yang memberi kehidupan pada benih, menumbuhkan tanaman, dan menghasilkan panen adalah Allah Subhânahu wa Ta‘âla.

Pertanian bukan sekadar aktivitas ekonomi, melainkan amanah ilahi. Tanah, air, udara, dan seluruh ekosistem adalah titipan Allah yang harus dijaga keseimbangannya. Ketika pertanian dilakukan dengan cara yang merusak alam—menggunakan bahan kimia berlebihan, merusak tanah, mencemari air—maka keberkahan akan dicabut, meskipun hasil panen terlihat melimpah.

Islam mengajarkan bahwa keberkahan tidak hanya diukur dari banyaknya hasil, tetapi dari manfaat, keberlanjutan, dan kebaikan yang dihasilkan. Dalam sebuah hadis riwayat Imam Muslim, Rasulullah saw bersabda:

الْتَمِسُوا الرِّزْقَ فِي خَبَايَا الْأَرْضِ

Carilah rezeki di dalam simpanan-simpanan bumi.

Hadis ini menunjukkan bahwa bumi menyimpan potensi rezeki yang sangat besar. Namun, potensi itu harus dicari dengan cara yang baik, bijak, dan bertanggung jawab, bukan dengan merusak dan mengeksploitasi yang dapat mengganggu keseim-bangan alam.

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah

Pertanian yang ramah lingkungan adalah pertanian yang senantiasa menjaga kesuburan tanah, menghemat dan melindungi sumber air, tidak merusak ekosistem, dan menghormati makhluk hidup lain.

Inilah bentuk syukur yang nyata atas nikmat bumi. Dengan menjaga alam, kita menjaga keberlangsungan rezeki bagi generasi hari ini dan generasi yang akan datang. Allah mengingatkan dalam Al-Quran bahwa kerusakan di darat dan di laut terjadi akibat perbuatan manusia.

Maka, sudah seharusnya kita kembali kepada prinsip Islam: tawâzun (keseimbangan) antara mengambil manfaat dan menjaga kelestarian.

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah

Jika kita telah memiliki komitmen untuk menjaga keseimbangan alam maka harus mewujudkan pertanian yang berkah dan melindungi kelestarian alam. Pertama, pertanian yang berkah adalah pertanian yang dilandasi niat ibadah. Para petani harus meluruskan niat bahwa kita mengelola bumi Allah dengan niat semata untuk menyambung keberlangsungan hidup guna mengabdikan diri hanya kepada Allah Swt.

Kedua, pertanian yang berkah harus dilakukan dengan cara yang halal dan tidak merusak. Pertanian harus dikembangkan dengan selalu memperhatikan penggunaan bahan-bahan penyubur yang bersumber dari bahan-bahan alamiah, dan sebisa mungkin menjauhi penggunaan pupuk dan bahan pestisida yang mampu mengganggu atau bahkan mengeliminasi makhluk tanah lainnya.

Ketiga, pertanian harus memberikan manfaat luas bagi Masyarakat. Makna paling sederhananya adalah bagaimana manfaat pengelolaan tanah ini dirasakan sebesar-besarnya oleh warga masyarakat sekitar.

Keempat, pertanian harus menjaga keseimbangan alam sebagai ciptaan Allah, adalah puncak segala pencapaian usaha atau aktivitas pertanian.

Mari kita tanamkan kesadaran bahwa menjaga lingkungan adalah bagian dari iman, dan merusak alam adalah bentuk pengkhi-anatan terhadap amanah Allah Swt.

بَارَكَ اللّٰهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khotbah Kedua

اَلْحَمْدُ للهِ عَلَى نِعَمِهِ الَّتِيْ لَا تُحْصَى، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَذَرُوْا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ. وَحَافِظُوْا عَلَى الطَّاعَةِ وَحُضُوْرِ الْجُمْعَةِ وَالْجَمَاعَةِ وَالصَّوْمِ وَجَمِيْعِ الْمَأْمُوْرَاتِ وَالْوَاجِبَاتِ. وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ بِنَفْسِهِ. وَثَنَى بِمَلَائِكَةِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ. إِنَّ اللّٰهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا. وَاَرْضَى اللهُ عَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَللّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وِالْأَمْوَاتِ. اَللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الرَّحِيْمِيْنَ بِجَمِيْعِ خَلْقِكَ. اَللَّهُمَّ احْفَظْ بِلَادَنَا مِنْ كُلِّ سُوْءٍ، وَارْزُقْنَا الْحِكْمَةَ فِي التَّعَامُلِ مَعَ كُلِّ مَخْلُوْقَاتِكَ. اَللَّهُمَّ انْصُرْ كُلَّ مَنْ يُحَافِظَ عَلَى مَخْلُوْقَاتِكَ، وَاهْدِي كُلَّ مَنْ يُسِيْءُ إِلَيْهَا. عِبَادَ اللهِ، اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاۤئِ ذِى الْقُرْبٰى وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَاسْأَلُوهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.

 

Form Generate Sitasi

Kolom Komentar

Support kami dengan komentar positif dan ulasan yang membangun.

* Anda Wajib login Untuk Menulis Komentar/Review.

Subscribe ELIPKSI

Jangan Lewatkan

Jangan sampai Anda terlewatkan update buku terbaru dari ELIPSKI, segera berlanganan gratis melalui email.

Verifikasi Google pada formulir ini hanya berlaku di situs Kemenag.

Buka formulir berlangganan